all about Architecture, Urban design, Social Life and many more

all about Architecture, Urban design, Social Life and many more
Taman Sari Picture

Sabtu, 06 April 2013

Sick Building Syndrome

Sick Building Syndrome atau biasa disingkat dengan SBS ini adalah semacam kondisi gangguan yang dialami oleh penghuni bangunan/gedung akibat buruknya ventilasi dan adanya kontaminasi polutan di udara dalam bangunan tersebut. 
Biasanya gejala SBS yang diderita oleh penghuni antara lain :
  1. sakit kepala
  2. alergi
  3. batuk kering
  4. gatal-gatal
  5. dan sebagainya
Gejala SBS bisa dialami oleh penghuni bangunan yang tinggal di rumah, penghuni rumah pun bisa terkena gejala yang satu ini. Kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan oleh aktivitas manusia di dalam rumah kebanyakan ada di area dapur dan ruang kerja pribadi. Bisa juga akibat dari kondisi area dapur yang tidak baik, atau bahkan kurangnya ventilasi pun bisa menyebabkan SBS.

PENTINGNYA MENGETAHUI ETIKA BISNIS KONSTRUKSI


Siapa yang  tidak mengenal sebuah bisnis konstruksi? Ini adalah bisnis yang ada hubungannya dengan bidang ilmu teknik konstruksi, teknologi, sains, dan industri konstruksi. Adanya moral dan etika menjadikan bisnis ini patuh pada kedua hal tersebut. 
Foto koleksi Penulis Blog

Pengertian Etika dan Moral
Etika, berasal dari bahasa Yunani, “etos”, yang memiliki arti adat, suatu kebiasaan, suatu sikap atau cara berpikir seseorang. Kata Etika ini dipelopori seorang Aristhotheles pada tahun 384-322SM. Ia memakai kata Etika sebagai salah satu cara untuk menunjuk sebuah filsafat moral. Etika digunakan manusia untuk menentukan bagaimana suatu perilaku manusia dalam menjalani hidup. Apakah etika berbeda dengan etiket? Ya. Etiket berasal dari bahasa Perancis, “etiquette”, yang memiliki arti suatu undangan. Yang memiliki maksud suatu kumpulan cara hidup yang baik.
Lalu bagaimana dengan Moral? Moral yang berasal dari bahasa latin , “mores”, yang memiliki arti sila atau pengaturan hidup. Moral ini memuat suatu pandangan-pandangan tentang nilai dan norma yang ada di sekelompok masyarakat. Moral berasal dari ajaran agama, adat istiadat atau suatu paham ideologi. Pentingnya moralitas di masyarakat memberikan manusia aturan/petunjuk bagaimana manusia bertindak dan menghindari sesuatu yang buruk.

Teori Etika
Etika pun memiliki suatu tujuan, dikatakan sebagai suatu tindakan yang dinilai baik jika tujuan yang dicapainya dengan hasil yang baik. Ada 2 aliran etika, yaitu Egoisme dan Utilitarianisme.
Egoisme sendiri dipandang sebagai tindakan seseorang yang bertujuan untuk mengejar kepentingan dan memajukan dirinya sendiri.
Lalu Utilitarianisme, dikatakan sebagai suatu tindakan seseorang yang  didasarkan pada tujuan dan akibat dari tindakan itu sendiri bagi kalangan masyarakat disekitarnya.

Pengertian Etika Bisnis Konstruksi
Etika bisnis konstruksi termasuk dalam etika bidang khusus/terapan. Karena berkaitan dengan bidang profesi dunia di bisnis konstruksi. Etika bisnis ini adalah salah satu studi yang memiliki sangkut paut permasalahan dan suatu keputusan moral yang dihadapi oleh suatu individu/organisasi perusahaan yang terlibat di  dalam bisnis/industri konstruksi.  Dalam etika bisnis konstruksi lebih banyak mempelajari tentang teori-teori etika, karena teori yang satu ini memiliki alasan-alasan yang berkaitan dengan kepercayaan dan tindakan.

                               Foto koleksi Penulis Blog

Tujuan Etika Bisnis Konstruksi
Tujuan tersebut meliputi 2 aspek, antara lain Perkembangan moral dan Otonomi moral. 
      Perkembangan Moral
Menurut Kohlberg (1927-1928), ada 6 tahapan dalam perkembangan nilai moral. Setiap tahapan mencerminkan tingkatan moral seseorang. Setiap tahapan meliputi dua tahap.
1.      Tingkat Prakonvensional
Pada tahapan ini manusia mengakui adanya aturan budaya/Culture dan ungkapan budaya, baik buruk, benar serta salah. Penilaian ini berdasarkan faktor lahiriah saja. Untuk tahapan ini adanya orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativis-instrumental.
2.      Tingkat Konvensional
Untuk tahapan ini, manusia hanya memiliki harapan kepada keluarga, suatu kelompok atau bahkan untuk negaranya, yang merupakan pandangan bahwa ini sebagai sesuatu hal yang berharga bagi dirinya. Ada 2 tahapan ini yaitu orientasi kesepakatan antarpribadi serta orientasi hukum dan ketertiban.
3.      Tingkat Pascakonvensional
Pada tingkatan ini terdapat suatu usaha yang jelas untuk merumuskan suatu niai-nilai serta prinnsip yang muncul. Pada tahap tingkatan ini terbebas dari otoritas  kelompok. Terdapat dua tingkatan tahap, antara lain Orientasi kontrak sosial legalistis dan Orientasi prinsip etika universal.

Otonomi moral
Otonomi ini sebenarnya memiliki arti manusia menaati kewajibannya karena sesuatu hal yang bernilai dan menjadi bagian dari tanggung jawab manusia itu sendiri. Hanya manusia yang berotonomi moral yang tentu taat dan patuh pada  hukum. Kaitannya dengan etika bisnis konstruksi ini ialah untuk memperkuat kesadaran para pelaku bisnis konstruksi di Indonesia, ini adalah upaya untuk meningkatkan otonomi moral pelaku bisnis tersebut.
Peningkatan otonomi moral dapat diperoleh dengan cara melatih dan menyempurnakan kemampuan/kreativitas para pelaku bisnis tersebut.
Menurut Martin dan Schinzinger (1994), disebutkan bahwa ada beberapa keterampilan yang memiliki hubungan dengan kemampuan/kreativitas, antara lain :
  1. Memiliki kemahiran dalam mengenali suatu permasalahan serta isu-isu moral di dalam bisnis konstruksi
  2. Memiliki keterampilan memahami, menjelaskan secara kritis dan mengkaji argumen yang berlawanan dari isu-isu moral
  3. Memiliki kemampuan dalam membentuk sudut pandangan yang konsisten serta komprehensif
  4. Memiliki keadaan yang imajinatif tentang berbagai respon alternatif terhadap isu-isu dan pemecahan kreatif atas kesulitan yang dihadapi
  5. Memiliki kepekaan terhadap kesulitan yang terjadi
  6. Peningkatan ketepatan dalam penggunaan bahasa etika yang lazim
  7. Meningkatnya penghargaan baik terhadap kemungkinan dalam pemecahan konflik moral serta perlunya toleransi perbedaan  di kalangan orang-orang
  8. Pentingnya integrasi antara profesional dengan keyakinan

Pendapat mengenai Etika Bisnis Konstruksi
  • Bisnis Konstruksi adalah Suatu persaingan
  • Bisnis Konstruksi  itu Asosial
  • Bisnis Konstruksi campur moral akan tersingkir
  • Bisnis Konstruksi mencari keuntungan belaka
  • Bisnis Konstruksi hanya berkonsentrasi pada pekerjaan
  • Bisnis Konstruksi itu memakan biaya
  • Bisnis Konstruksi harus disertai kekuatan
  • Bisnis Konstruksi memerlukan keterampilan khusus
  • Bisnis Konstruksi itu tidak memiliki nurani
      Dari berbagai macam pendapat diatas, bisnis konstruksi dan etika adalah 2 hal yang tidak dapat disatukan.  Karena pertimbangan dari moral dan etika tidaklah menguntungkan, maka etika dan bisnis konstruksi harus dipisahkan.

Prinsip Etika Bisnis Konstruksi
Prinsip ini bertujuan supaya para pelaku bisnis konstruksi yang menjalani bisnis ini sadar akan dimensi etisnya kegiatan bisnis ini, serta supaya belajar bagaimana mempertimbangkan secara etis dan ekonomis, dan mampu memasukkan pertimbangan etis dalam kebijaksanaan perusahaan konstruksi tersebut.
Lima Prinsip Etika Bisnis Konstruksi antara lain :
  • Prinsip Sikap Baik
  • Prinsip Otonomi
  • Prinsip Kejujuran
  • Prinsip Keadilan
  • Prinsip Hormat terhadap diri sendiri


THE SECRET, sebuah esensi pengetahuan


Saya membagi sedikit interpretasi saya kepada Anda mengenai buku The Secret 


Siapa yang tidak tahu buku dari karangan seorang Penulis bernama Rhonda Byrne. Buku yang pernah dicetak pada tahun 2006 dan di terbitkan oleh Beyond Words Publishing ini mampu menarik bagi pembaca yang penasaran apa isi dan makna dari cerita The Secret.
Rhonda Byrne adalah seorang petualang, dia memiliki multitalenta. Rhonda memiliki kemampuan sebagai pengarang, sebagai guru, pembuat film, desainer dan penerbit buku The Secret untuk Dunia.
Rhonda menciptakan The Secret ini agar dapat menghadirkan kebahagian bagi miliaran orang di dunia. The secret yang berarti rahasia. Rahasia yang dapat memberikan apa pun yang Anda inginkan. Sebuah buku yang berisi kata-kata rahasia dan juga kisah-kisah ajaib yang terjadi. Setiap lembar demi lembar halaman yang mempelajari apa itu Rahasia, baik apa yang Anda inginkan, siapa sesungguhnya diri Anda dan apa yang menanti Anda.
Apa yang Anda pikirkan untuk sekarang ini sebagai upaya dalam penciptaan kehidupan masa depan Anda kelak. Manusia dapat berpikir, maka manusia pula dapat  mencipta. Apa yang Anda fokuskan tentu akan muncul dalam hidup Anda. Anda dapat mengubah situasi setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidup Anda dengan cara sepenuhnya mengubah cara berpikir Anda.
Setiap kehidupan manusia  tentunya menjadi sebuah perjuangan karena adanya Hukum Tarik Menarik. Maka, yakinlah bahwa kebaikan akan mendatangkan kebaikan, begitu juga sebaliknya.

Manusia adalah pencipta bagi dirinya, karena semua yang baik lahir dari manusia itu sendiri.

Kamis, 04 April 2013

Romo Mangun Wijaya, sang Tokoh Humanis

oleh Ratih Dyah A, ST., MT


Romo Mangunwijaya

Siapa yang tak kenal dengan sosok Romo yang satu ini? Ia  menjadi idola di kalangan masyarakat, baik para arsitek, sejarahwan, pemuka agama, dan tak lupa kalangan masyarakat miskin.  Sesosok romo yang memiliki nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. Pria kelahiran 6 Mei 1929, Ambarawa, Semarang. Namun, ia lebih populer disebut dengan nama "Romo Mangun". Romo Mangun adalah anak dari pasangan Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Pendidikan pertama Romo jalani di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan-Magelang dari tahun 1936-1943. Lalu Romo melanjutkan pendidikannya di STM Jetis, Yogyakarta pada tahun 1943-1947 dan Sekolah Menengah Umum B-Santo Albertus, Malang pada tahun 1948-1951. Romo pun melanjutkan pendidikan Seminari Menengah Kota Baru, Yogyakarta dan Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang. Tak lupa Romo mengenyam kembali pendidikan arsitektur di ITB pada tahun 1959. Tak puas menimba ilmu ia kemudian melanjutkan ke Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, di Jerman pada tahun 1960.
Romo Mangun dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela masyarakat miskin/kecil. Romo gigih dalam memperjuangkan kemanusiaan. Ia menuangkannya dalam kata-kata berupa tulisan dalam artikel, dan terkadang ia melakukannya dalam tindakan praksis melalui pembelaannya pada kaum lemah miskin, tertindas. Romo mangun juga mengeluarkan beberapa buku, salah satunya adalah buku berjudul 'Impian dari Yogyakarta'. 
Bukti sikap Humanisnya terlihat saat Romo membela masyarakat miskin di Bantaran Sungai Code, Yogyakarta. Dalam pelaksanaan proyek sungai code, program tribina yang lebih diarahkan kepada pembentukan Kampung Kolektif yaitu Komunitasnya, bukan individu-individu. Terbukti dari berbagai karya arsitekturnya hampir semua bangunan yang Romo Mangun design berfungsi untuk kepentingan masyarakat. Beberapa karya arsitekturnya menonjolkan kekuatan sosial budaya dan lokalitas sebagai akar proses berdesain. Beberapa karya arsitektural Romo Mangun antara lain Komplek Sendang Sono, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Gedung Bentara Budaya Jakarta, Gereja Katolik jetis Yogyakarta. Penataan Kali Code Yogyakarta yang dilakukan oleh sang Romo mendapatkan Award, yaitu The Aga Khan Award for Architecture (1992). Dan selang 3 tahun, sang Romo mendapatkan penghargaan dari Stockholm, Swedia yaitu The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award pada kategori arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan. 
Visi hidup seorang Romo Mangun yang terbangun dari pengalaman yang mengubahkan. Romo Mangun mengalami dua kali repture yaitu di bidang Agama dan Kesadaran Kolektif. Pengalaman-pengalaman otentik serta makna refleksi kembali yang Romo dalami membawa Romo hidup dengan kaum miskin. Romo mendampingi mereka membuat sesuatu untuk memajukan hidupnya. Realita yang seperti itu membuat sang Romo memperbaiki pembangunan total manusia dengan membawa dua misi kebudayaan, yaitu yang pertama adalah penyadaran penduduk kampung code (khusus) dan masyarakat luas (umum) dan yang kedua memberikan dirinya sebagai contoh.

Sebagian informasi dikutip melalui Buletin Sosiologi, Urban Problems : Mangunwijaya "membangun tanpa menggurui', Edisi Juli 2008.


Adanya Manajemen Sampah di Perumahan


Oleh Ratih Dyah Annissa, ST., MT


Sumber Foto : Koleksi Penulis Blog

       Entah apa yang ada di benak Anda saat di samping kiri, kanan, depan atau bahkan belakang rumah Anda ada begitu banyak sampah berserakan. Sampah-sampah yang berserakan bisa berasal dari daun-daun yang rontok, sampah plastik, sampah sisa-sisa makanan atau bahkan sampah kertas koran. Sampah tidak bisa lepas dari aktivitas manusia, dimanapun dan kapanpun Anda akan selalu bertemu dengan Sampah. 

       Bayangkanlah bila Anda melewati pos-pos Sampah, ada beberapa sampah-sampah yang dibiarkan menumpuk bahkan mengeluarkan aroma tidak sedap yang menyengat hidung membuat siapa saja enggan melewati pos sampah tersebut. Mungkin, sebagian dari Anda yang lewat pasti akan menutup hidung hingga tidak mau menatap banyaknya sampah-sampah yang berceceran hingga keluar dari batas area pos sampah tersebut.
       Jika sampah-sampah tersebut tidak diatur, tidak tertata rapi dan tidak pula dibuang dengan cara yang benar, maka tentu saja akan mengganggu kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa sampah yang berguna adalah sampah-sampah biologis, sampah kertas dan sampah plastik. Ketiga jenis sampah yang tentu berbeda dengan sampah basah dan sampah kering. Coba bila Anda bayangkan di sekitar rumah Anda tersedia fasilitas sampah. Misalnya adanya manajemen sampah di rumah Anda, tentunya akan banyak membantu dalam menjaga kebersihan dilingkungan rumah Anda juga  sekitarnya. 
        Jenis sampah kertas tidak menimbulkan bau, hanya saja tumpukan kertas ini akan menumpuk di rumah warga. Sampah kertas memang tidak bisa saja diabaikan oleh warga perumahan, terkadang warga ada yang mendaur ulang kertas-kertas ini atau menjualnya kepada pengepul koran bekas. Lalu bagaimana dengan sampah Plastik? Plastik adalah sejenis sampah yang tentu  membutuhkan waktu lama dalam proses penghancurannya. Plastik tidak muncul secara alamiah, namun plastik tentunya buatan pabrik. Plastik terbuat dari bahan kimia yang banyak dijumpai dalam minyak, meskipun ada yang berasal dari kayu, batu bara dan gas alam. Jenis bahan umum plastik antara lain adalah polithene, polistirene, PVC dan nilon.
       Jenis plastik pun bermacam-macam, seperti plastik ringan, plastik keras, plastik yang lembek dan melar, ada juga plastik tembus pandang. Sampah plastik yang dikumpulkan warga di Bank Sampah ini kebanyakan adalah sampah rumah tangga (sampah botol plastik minuman, sampah botol deterjen, dan lain-lain) dan sampah sisa-sisa plastik makanan. Sampah-sampah plastik dikumpulkan warga untuk dikumpulkan kepada pengepul sampah plastik lalu kemudian didaur ulang menjadi barang jadi, seperti tas daur ulang. 
       Sudah saatnya kita yang berperan di lingkungan sekitar kita, AYO, kita bersama-sama mengelola sampah-sampah yang ada di sekitar kita. Tujuan supaya lingkungan yang ada disekitar kita bersih, nyaman dan sehat untuk ditinggali. 
Sayangilah lingkungan yang ada disekitar Anda. 

Hasil tulisan merupakan karya tulis artikel Penulis Blog untuk Majalah

Selasa, 26 Februari 2013

Semangat Dalam Menyelesaikan Tesis Strata Dua

                           Oleh : Ratih Dyah Annissa Perwitasari Sayekti, S.T., M.T

Dear Blog,
saya ingin berbagi pengalaman saya dalam menyelesaikan studi 1,4 bln saya di Pascasarjana UAJY.
Awalnya saya belum bisa menentukan apakah saya akan mengambil topik penelitian Psikologi Arsitektur ini di Lokus Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan atau mengambil topik riset kuliah PPAK (kuliah strata satu) di Lokus dekat Jalan Malioboro. Berhari-hari saya merenung dan berpikir, apakah topik tersebut sekiranya cocok untuk di jadikan Proposal Tesis ?
Untuk kesekian kalinya saya riset dan survey berhari-hari di dua Lokus yang berbeda tersebut. Saya mencoba melakukan study apakah sudah cocok atau masih kurang dalam memperoleh data-datanya. Saya sudah tidak meragu lagi untuk yang satu ini, saya memilih Lokus pertama. Mengapa ?
Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan lokasi tersebut, antara lain :
1. Surat ijin penelitian dari Universitas terkait
    Surat ijin ini sangatlah penting dalam membantu saya dalam melakukan proses perijinan di berbagai instansi Pemerintah dan Dinas-dinas terkait, baik Kecamatan dan Kantor Kalurahan. Bisa disebut Surat "Ajaib" lah, teman-teman. Kalau ada koneksi orang dalam juga turut membantu untuk mempercepat proses perijinan. Tapi karena saya tidak memiliki koneksi, alhasil, sabarlah dalam melakukan proses-proses perijinan yang membuat kita terkadang harus bolak-balik, namanya juga sesuai dengan prosedural. Jangan lupa untuk di buatkan copyan surat ijin penelitian dan cap dari Universitas/Instansi terkait, berguna bagi halaman lampiran Tesis nantinya.
2. Menunggu Data dan Orang Penting
    Data-data penelitian, baik data primer dan data sekunder. Data primer adalah data-data yang kita peroleh dan kita olah di lapangan, sedangkan data Sekunder adalah data-data berupa data angka, data pustaka, data -data instansi pemerintah yang tentunya ada kaitan dengan topik riset tesis kita. Ternyata untuk memperoleh beberapa data penunjang memang tidaklah mudah. Faktor cuaca ekstrim, panas dan hujan tiba-tiba memang membuat galau hati para Researchers, haha. . Biasanya kalimat dihati itu, " yah, hujan..aduh panas bgt sih, lama bangetttt.....bolak-balik lagi, , " Kalimat-kalimat yang super galau deh. Lalu kemudian orang penting disini yang dimaksud adalah orang-orang yang berhubungan dengan riset kita, misal staf dinas terkait atau staf kelurahan, dukuh, dan lain sebagainya. Untuk memperoleh data riset dengan mudah, intinya hanya SABAR, Sabar dan sabar. Just do it. Pasang muka senyum  walaupun kita lama menunggu. Sikap semacam ini sebagai bentuk melatih kesabaran kita.
3. Olah Data 
    Olah data di Lapangan adalah salah satu cara supaya saat para responden/sampel yang kita jadikan penelitian ini lengkap tanpa suatu kekurangan nantinya. Tak lupa, apabila saat wawancara bubuhkan juga pada kuisioner yang dilihat, tambahan catatan dari tanya jawab responden dengan peneliti di lapangan. Dan bila kemampuan olah data dalam menggunakan program SPSS masih kurang, kita masih bisa menggunakan MS.Excel.
4. Metode Penelitian
    Ada begitu banyak referensi pustaka yang berhubungan dengan Metode Penelitian, baik Kualitatif, Kuantitaif atau keduanya. Cek, cek dan cek apakah Metode Penelitian yang digunakan sudah tepat dan sesuai dengan Tema Tesis/riset yang diambil. Apabila referensi pustaka yang ada diPerpustakaan Kampus masih belum lengkap, cobalah Anda cari di Perpustakaan Samsat kota Yogyakarta. Bisa jadi referensi pustaka tersebut ada, atau carilah pustaka tersebut di Perpustakaan Universitas di Yogya/sekitar Yogya. "Demi Tesis, akan saya lakukan apa saja .." Tanamkan itu dalam benak kita sehari-hari. Insyaallah, di mudahkan usaha dan jalan Anda dalam menyelesaikan Tugas Akhir Anda. Cobalah.
5. Semangat
     Kata 'semangat' selalu ada di tiap langkah saya dalam menempuh Tesis saya ini. Tak pernah lupa, saya selalu menyemangati diri saya dan melihat kembali apa yang telah selama ini saya peroleh, adalah hal yang sangat Mujarab. Ini seperti sebuah suntikan semangat, sebuah aliran semangat baru yang tentunya tak lupa doa dan dukungan dari orang-orang terdekat.

Kelima point yang sudah saya utarakan melalui blog saya ini, tentunya di harapkan bisa dijadikan referensi Anda yang sedang melanjutkan Prodi Strata 2 atau yang akan menyelesaikan Tugas Akhir Anda dengan sukses.
Selamat Mencoba.


“ ASAL-USUL SEJARAH ORANG TIONGHOA “


Asal-usul sejarah

                Sebelum kedatangan orang-orang Portugis di Indonesia pada tahun 1511, Orang Tionghoa lebih dulu  berlayar dari Tiongkok Selatan ke Pulau Jawa. Menurut Peter Carey (1985: p.86), mengatakan bahwa awal abad ke -14 telah ada pemukiman koloni orang-orang Tionghoa di pinggir pantai Pulau Jawa. Kedatangan orang Tionghoa di Pantai Timur Laut Jawa Tengah adalah awal pusat perdagangan di Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia. Pedagang-pedagang Tionghoa membawa porselen dan sutra untuk kemudian ditukar dengan bahan makanan mentah, berupa beras dan hasil pertanian lainnya. Pecinan adalah sebutan bagi pemukiman orang Tionghoa.
            Seiring berjalannya waktu hingga pada abad ke 15, penyebaran agama Islam dilakukan oleh pedagang Pribumi dan Raden Patah mulai mendirikan kerajaan Kesultanannya. Hingga tahun 1595-1596, orang Belanda berlayar melewati Semenanjung Harapan di Afrika Selatan, dengan membeli rempah-rempah dan membawa hasil rempah tersebut ke negara Eropa. Lalu kemudian orang Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada tahun 1602  di Ambon, dengan meluasnya area jajahan yang dikuasai oleh Belanda, maka diputuskanlah kota Jayakarta (sekarang Jakarta) menjadi Markas Batavia.
            Awal abad ke 19, VOC bangkrut, sebagai gantinya Belanda mendirikan Pemerintahan Hindia-Belanda dengan ibukota Batavia. Tahun 1740, Pemerintah Belanda melakukan larangan bagi para Imigran Tiongkok untuk datang ke Indonesia, dan merekka segera dideportasikan ke Ceylon dan Semenanjung Harapan.  Orang-orang Tionghoayang datang ke Indonesia melalui Tiongkok Selatan ke Pulau Jawa, adalah orang-orang yang tidak puas karena Rezim Ching dari Dinasti Manchu. Akibat buruknya perlakuaan tentara Belanda terhadap kaum Tionghoa kala itu, mereka  pun pindah ke wilayah Timur Laut Jawa Tengah.
Menurut Raffles (1988: p.62), dikatakan bahwa pada awal abad ke 19, populasi orang Tionghoa di TimurLaut Jawa Tengah tidak melebihi 4.819 jiwa yang tersebar di delapan kabupaten.  Jumlah ini sama dengan 0,98% dari populasi penduduk keseluruhan. Dan menurut  G. William Skinner (1979: p.7), di delapan kabupaten ini terdapat sebelas pecinan. Hampir semua orang Tionghoa pada waktu itu adalah kelompok Hokkien yang datang dari Provinsi Fukien.
Persaingan perdagangan juga mulai memanas, mana kala pihak Belanda menjadi pihak golongan kelas atas, orang Tionghoa golongan kelas menengah bawah dan Orang Pribumi menempati kelas menengah bawah. Hal inilah yang memicu persaingan antar Orang Pribumi dengan Orang Tionghoa yang menjadikan Belanda sebagai mitra dalam perdagangan Candu. Muncullah kerusuhan anti Tionghoa pada tahun 1912.
Keadaan mulai berubah mana kala Indonesia merdeka pada tahun 1945, tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Hal ini menimbulkan kebingungan bagi para tentara Belanda yang tinggal di Indonesia, apakah mereka akan kembali ke negara asal mereka, atau tetap tinggal di Indonesia menjadi warga negara. Tentara Belanda memilih kembali ke Negara Belanda. Bangunan-bangunan kolonial Belanda mulai diambil oleh Pihak Pemerintah Indonesia dan dipergunakan sebagai bangunan kantor pemerintahan, bangunan militer, bangunan sekolah dan yang lainnya dibiarkan kosong begitu saja.
Kondisi Orde Baru ini menguntungkan pihak Tionghoa yang mengambil alih perdagangan pihak Belanda, termasuk perdagangan ekspor dan impor, berasimilasi dengan kebudayaan penduduk Pribumi. Menurut Joel Kotkin (1993: p.180)  dikatakan dalam bukunya “Tribes, How Race and Relogion, and Identity Determine Success in the New Global Economy” , bahwa pada awal tahun 1990-an jumlah ornag Tionghoa mencapai 5% dari jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Tetapi jumlah yang kecil ini menguasai aset ekonomi nasional sebesar 75% dan Pecinan selalu menjadi pusat kota dimana daerah perdagangan berada.

Sumber Pustaka :
Carey, Peter. 1985. Orang Jawa dan Masyarakat Cina. Jakarta : Pustaka Azet.
Kotkin, Joel. 1993. Tribes, How Race and Relogion, and Identity Determine Success in
         The New Global Economy. New York : Random House.
Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta :
         Penerbit Ombak.
Raffles, Thomas Stanford. 1988. The History of Java. Singapore : Oxford University
         Press.
Skinner, G. William. 1979. Golongan Minoritas Tionghoa. Jakarta :  Leknas-LIPI dan
         Yayasan Obor Indonesia.